Setiap orang punya cara dan tempat masing-masing untuk berbagi kegalauan, begitu juga dengan kami. Bagi mahasiswa lain, tempat ini mungkin hanya sebagai tempat biasa mengurus beasiswa, KKN, wisuda, tapi bagi kami tempat ini lebih dari sekedar itu. Ada bagian dari tempat ini yang penuh kenangan dan bersejarah, di tempat inilah kami biasa ‘menggalau’. Tak hanya sekedar menggalau biasa, tapi disertai dengan kegiatan lain untuk menjaga kesehatan, biasanya jogging, pernah badminton juga sih! Yup! Tempat ini tak lain dan tak bukan adalah gedung pusat/rektorat UGM.
Dulu lumayan seringlah kami berkumpul untuk jogging dan tentunya ujung-ujungnya menggalau bersama, kadang berdua, bertiga, berempat, sayangnya belum pernah berlima (siapa hayo yg merasa belum pernah ikut menggalau??? ). Biasanya sore, tapi beberapa kali pernah di pagi hari sekalian sunmor-an (biasanya ada yang batal ikut karena telat bangun, he he). Sebagai mahasiswa semester akhir dan jobseeker tentunya banyak hal yang bisa membuat galau, entah itu tugas kuliah, skripsi, kerjaan, bahkan cinta. Ha ha yang terakhir ini sepertinya sudah ada yang tidak perlu galau lagi. Hal-hal tadi yang biasanya jadi sumber kegalauan kami. Dan di spot favorit kami inilah biasanya kami saling menceritakan kegalauan masing-masing.
Uniknya, curhat on air ini kadang memberikan solusi, tapi kadang justru bisa membuat yang tadinya ga galau menjadi galau. Dengan kata lain, bisa terjadi transfer kegalauan. Ini ni yang gawat :p Tapi paling ga ada beban yang terkurangi dalam hati…
Tempat ini benar-benar menjadi saksi bisu keberbagian canda yang berujung tawa, bahkan tangis (agak lebay nih, tapi kayaknya pernah). Di sinilah kami menyimpan kenangan penuh makna. Makna mendalam akan pembelajaran hidup, kasih sayang, cinta, dan yang terpenting persahabatan. Dan untuk saya sendiri, di tempat inilah saya menemukan jawaban atas pertanyaan ‘Apa sih definisi persahabatan menurut kamu?’. Jawabannya adalah ‘Persahabatan bukan untuk didefinisikan, tapi untuk dirasakan’ dan di tempat inilah saya merasakan persahabatan yang tulus.
Biasanya kalau menggalau di sore hari akan berujung dengan minum jus, minum susu kambing, atau susu sapi,bahkan makan mie, tapi sore itu kami pernah menyusuri jakal untuk membeli roti bakar dan pulangnya bertemu seorang Bapak yang naik sepeda yang kebetulan barang bawaannya rumput untuk pakan ternak mau jatuh, dan pada saat itu ada Mas-mas yang menolong, lalu kami menghampiri juga dan bertanya sebenarnya Bapak itu dari mana mau ke mana dan ternyata Bapak itu pulang dari bekerja di Sleman untuk pulang di daerah Bantul, kalau tidak salah, dan waktu itu kami mendapatkan pelajaran tentang semangat bekerja dan perjuangan menjalani kehidupan. Yah, kenangan itu benar-benar masih teringat sampai sekarang.
Manusia memang tidak bisa melawan waktu. Seiring waktu berjalan, kami menyadari jalan yang kami tempuh akan berbeda-beda terutama setelah lulus. Saya sendiri semakin menyadari dan berpikir berbagi kegalauan dengan cara ini akan semakin sulit dilakukan bersama-sama. Ada yang ke luar negeri, ada yang bekerja, ada yang masih sibuk skripsi, ada yang sibuk mengabdi di tempat kelahiran, dan inilah realita kehidupan yang senantiasa berganti. Jujur, saya mempunyai satu harapan, walaupun jalan yang kami tempuh berbeda-beda dan harus terpisah jarak, suatu saat nanti kami akan bisa bertemu lagi di tempat yang sama, berkumpul bersama-sama, walaupun dengan tanggung jawab yang semakin kompleks tentunya, dan berbagi kisah menarik tentang kehidupan kami masing-masing. Lingkaran persahabatan ini semoga tak akan pernah lekang oleh jarak dan waktu dan tidak pernah terputus. Ada satu quote dari Naruto yang selalu saya ingat: ‘tempat kita untuk pulang adalah orang-orang yang selalu memikirkan kita’ dan saya berharap kalian adalah tempatku untuk pulang. So, tetap jaga komunikasi sembari kita mengejar dan mewujudkan impian kita masing-masing ya… Kangen kalian selalu


